Puisi Pendek

Pujian Bawang Merah

Dia tidak bersusah-hati

sesudah terpisah dari suatu

dekapan yang pernah dieratkan.

Sesudah prima jadi siung

sampai. Dia ikhlas berikan badannya

buat hancur ditumbuk, tipis diiris-iris

atau bersmaaan dengan kancing.

Untuknya. Tidak ada yang lebih kuat

merengkuh, selainnya takdir. Tidak ada

yang lebih prima mengucur

terkecuali yang pernah lahir.

Seperti itulah, seadanya

dia terima seluruhnya

seputih badannya

seteguh baunya.

Sesiung Bawang Putih

Sesiung bawang putih

mungkin sempat gundah

pada muka tanah. Tunggu

hujan tumpah dan peluh

jatoh dari jidat-jidat berkarat.

Sementara, di bibir sumur

mendadak saja basah

membasuhnya.

Dia emosi, kayaknya

selanjutnya mengangsu air matamu

menjadi pertanda bersedih atas separah

perpisahannya dengan setengah

kulit luarnya.

Di pundak dapur

pada matamu yang menangis

setelah itu. Dia lemparkan semua

kedukaan, waktu setajam pisau

mengiris tipis kulitnya

mengganggu berbau badannya.

Sambel Merah

Di atas cobek

sejumlah kemarahan cabe merah

rebah ditambah lagi doa selamat

dari tomat dan seasin pengalaman

dari taburan garam.

Dengan bayangan santap

dan setumpuk nasi hangat.

Menjadi kiat nikmat

anak batu menari

hingga sampai lumat semua sedap

dan jidat-jidat berkeringat.

DI DAPUR UMUM

Kami rebus 100 kemas

kisah lama, seribu haru

dan sejuta mata cidera.

Di atas daun pisang, setelah itu

jari-jari kami menari, rayakan

hari yang masih ada, sepeninggalan

cuaca yang hingga sampai mengambil alih rumah

dan didalamnya.

Leave a comment

Your email address will not be published.