Penyair Terkenal Dunia

KISAENG merupakan fenomena krusial dalam riwayat Korea. Sampai awalan Zaman ke-20 kisaeng adalah cuma satu kumpulan wanita yang terdidik dengan baik serta konstan. Struktur training serta persekolahan yang terinci dibuat serta disajikan untuk mereka serta penuh dengan penghargaan serta sangsi akademik di bermacam kelas serta subyek.

Seseorang calon kisaeng diambil dari keluarganya serta disekolahkan buat menjalani serta mendapat kariernya kedepannya selaku kisaeng serta ini mencegah buat mempunyai kehidupan normal dalam perkawinan serta memiliki keluarga. Meski begitu, secara umum mereka mempunyai kehidupan serta kebebasan ekonomi yang lebih bagus ketimbang dengan golongan wanita lain di eranya. Tidak hanya itu, mereka pula mempunyai kebebasan yang serupa dengan golongan laki-laki dalam pengajaran serta kekuasaan. Dalam artian yang luas, seseorang kisaeng “dapat jadi dianya” serta bisa menggarap serta mengatur identitasnya lewat keahliannya. Dengan cara sosial, barangkali mereka diliat rendah golongan wanita yang lain, tapi mereka mendapatkan pengajaran yang bagus serta hal tersebut bikin mereka jadi personal yang antik.

Pengajaran yang bagus serta terus-menerus yang diserahkan ke beberapa kisaeng ini, menurut Kim Ok Kil, selaku sisi dari kebijaksanaan pengajaran sah lebih dari selama 500 tahun waktu Dinasti Chosun. Untuk beberapa kisaeng semasa itu, literacy was universal, and advanced knowledge of literature, social manners, and ritus music and dance was common.

Kim Ok Kil pula mengucapkan kalau audience khusus beberapa kisaeng merupakan raja serta kadang pula ratu. Kumpulan audience kisaeng yang ke-2  secara exclusive merupakan golongan laki-laki, terhitung perdana mentri, beberapa gubernur propinsi serta kelas berkuasa dari kumpulan sosial-birokrat (beberapa penyair, pelukis, pakar kaligrafi), beberapa bangsawan pengangguran, serta duta sekian banyak negara asing. Beberapa serdadu termasuk ke kumpulan ini, baik dari golongan berpangkat tinggi atau rendahan.

Sejauh kekuasaan Dinasti Chosun, jumlah kisaeng yang dikaryakan pemerintahan (dengan penghasilan sah berwujud sokongan beras) beralih-alih, tergantung terhadap siapakah yang berkuasa. Semasa awalan kekuasaan dinasti itu, jumlah kisaeng yang diambil tiap 3 tahun dekati 100 orang serta diantar ke istana raja. Beberapa kisaeng pada jumlah yang sama dengan diantar, seusai merampungkan training mereka, ke ibu kota-ibu kota propinsi serta pos-pos militer.

Di semuanya negeri mungkin sangat ada kisaeng “tak sah” yang jumlah jauh makin besar. Tapi, semasa kekuasaan Yunsangun (1494-1506), jumlah kisaeng di ibukota negara saja sampai 10.000 orang serta terdiri kembali ke lebih pada 100 type category keterampilan. Menurut Chang Sa-hun category kisaeng yang paling tinggi merupakan mereka sebagai sisi dari rumah tangga kerajaan serta mereka yang sah dikasih pekerjaan buat mengurusi kamar tidur raja.

Seseorang kisaeng bisa bercakap (serta menulis) selaku seseorang cendekiawan terhadap laki-laki sebagai tuannya. Walau dengan cara sosial kisaeng tak diliat selaku pekerjaan yang terhormat, selaku personal kisaeng mendapatkan penghormatan sampai disayangi serta dipuji beberapa penyair terdidik. Ada banyak kejadian yang jadi legenda masalah interaksi kisaeng serta golongan laki-laki dari golongan terdidik semasa itu.

DI LUAR persepektif kesejarahan itu, bagaimana beberapa penyair kisaeng mengutarakan inteligensia serta hati mereka dalam puisi-puisi yang mereka tuliskan, bagus sekali buat dibaca lebih jauh. Buat kepentingan pembacaan kembali itu puisi-puisi beberapa kisaeng dalam tulisan ini dialih bahasa ke bahasa Indonesia oleh penulis sendiri dengan bersumberkan di Songs of the Kisaeng.

Mari kita awali dengan Hwang Jini (1511-1541), kisaeng terpopuler dalam riwayat Korea. Selekasnya seusai kematiannya, ketenarannya sampai sampai bagian cerita. Di eranya, kabarnya dia memiliki penggemar termasyhur serta salah satunya merupakan seseorang intelek, seseorang terdidik, serta sekalian seseorang penyair, seseorang pemuda yang menurut legenda wafat karena cintanya terhadap Hwang Jini serta sepanjang upacara pemakamannya menampik buat bergeser dari ujung pintu Hwang Jini, kisaeng pujaannya, sebelumnya Hwang Jini menghadiahkannya kemeja buat perjalanannya ke alam baka.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *