Contoh Cerpen

Subuh. Di hamparan rumput tidak demikian luas, dekat kebun jagung, Maya, gadis berusia 10 tahun, berlari-lari kecil, memburu dua kelincinya. Sang Hitam dan sang Putih. Dia makin jauh dari tempat tinggalnya. Kaki-kaki kecilnya di terpa cahaya mentari hangat, membuat bayang-bayang gelap bergoyang-goyang di atas rumput-rumputan masih yang tersisa embun-embun paling akhir pagi. Angin dalam kekuasaannya yang fana, mendesis di tengkuk dan lehernya. Demikian mesra belaian angin pagi itu sampai geraian rambutnya melambai kurang kuat. Di pokok keceriaan yang kenyataannya, dia seolah-olah tengah mengincar figure hitam dan figure putih yang tidak pernah dia kenali. Bersamaan dengan beberapa langkah kakinya, belalang-belalang yang termenung, coba mengerti pagi berkilau itu, bergetar, terperangah oleh kaki-kaki kecil Maya. Tetapi, menurut makhluk-makhluk hijau berantena itu, kaki-kaki Maya ibarat kaki-kaki raksasa yang akan memorak-porandakan lokasi kebinalengannya yang alami. Dua kodok sawah atau tiga, masih bersahutan. Suaranya kedengar berat, rendah, dan tenggelam. Tidak demikian jauh disana, air selokan lumayan lebar—terimbuni rumput-rumputan liar dengan bunga-bunganya memiliki warna kuning—bergemericik merdu, mengucur dari undakan tanah yang semakin tinggi ke bawah, berliku, dan jadi kecil di akhir pematang berlumpur yang mengapitnya.

Di saat sepasang kelinci Maya (sang Putih dan sang Hitam) itu sembunyi dibalik rumpun pokok pisang nangka, dia berdiri sebentar, biarkan parasnya yang murni, tanpa bintik-bintik vlek atau tahi lalat satu juga, disinggung cahaya mentari sepenggalah. Waktu sejenak, dia masih tegak, melihat langit biru tanpa awan-awan tipis sedikit juga menghadang penglihatannya. Walau begitu, dari kejauhan, di punggung gunung yang makin hari makin renta, awan-awan bergumpal-gumpal seolah-olah membuat sekawanan angsa-angsa putih pengecut tengah membicarakan kembali nasibnya.

Saat datang di dekat semak-semak pokok pisang nangka yang membisu itu, ke-2  kelinci itu dekati si pemelihara imutnya, Maya. Mereka begitu penurut. Nyaris 2 tahun mereka ada dalam lindungan cinta kasihnya. Karena amat penurutnya, sampai, di saat dipukul kepalanya juga, ke-2  kelinci itu tercenung saja tanpa keluarkan suaranya sedikit juga. Tidak tahu suara rengekan, tidak tahu suara rintihan. Cuma matanya berkedip lucu, namun hampa. Mereka menerka, itu cuman pukulan kasih sayang dari si penjaga kecilnya.

Maya begitu menyintai ke-2  kelinci itu, lebih ketimbang apapun, terkecuali ayah dan ibu kandungnya. Sekencang itu dia lihat ke-2  tangan ayahnya—berbulu merah lembut, lumayan jarang-jarang. Urat-uratnya mencuat—terulur, serahkan sepasang bayi kelinci cantik memiliki warna hitam dan putih (nantinya dipanggil sang Hitam dan sang Putih), sekencang itu juga dia saksikan ke-2  tangan ibu tirinya—mulus, merona, harum pelembap—menghantam ke-2  kepala kelinci itu secara kejam dengan suatu palu besi, diambil dari bawah meja dapur. Alangkah cepat dua insiden itu berlangsung!

Maya kembali memandang langit. Dia masih ingin tahu kalau, kabarnya, di Planet Mars langit memiliki warna pink. Saat ini langit itu berawan mendung. Angin berasa berembus cepat seperti menampari paras dan daun-daun telinganya dari arah belakang. Selanjutnya, dia lihat mentari jadi hitam, berdasar belakang monitor kesumba atau biru telur asin yang mulai bubar pelan-pelan, ke arah titik tersendiri tidak tahu di mana, saat sebelum sungguh-sungguh nampak gelap. Prima.

Di kamar suatu rumah sakit, bukan area VIP, terbujur Maya tidak sadar diri seusai tertabrak suatu mobil saat dia akan melewat ke gedung SMAN 1 Depok, tempat dia bersekolah. Umurnya saat ini enam belas tahun. Tetapi, sayang, dalam waktu relatif cepat, mobil itu mendecit keras, melejit. Kabur.

Disamping Maya, ayah kandungnya, Pak Sukiman, dan ibu tirinya, Bu Tanty melihatnya dengan haru. Mereka berdua udah menanti semenjak pagi lekas seusai kecelakaan itu berlangsung.

Pelipis, mata, dan pipi kiri Maya mengelupas kulitnya. Kaki kanannya patah sampai tempurung lututnya hancur. Ada sisa beberapa goresan jalan aspal kasar di dekat cuping hidungnya yang tidak mancung kembali (dan seperti tidak bernapas kembali). Di antara perban tebal, tampak beberapa sisa darah mengental di pojok kelopak mata kirinya yang saat ini menjuru ke seperti teluk kecil berpasir merah. Kata dokter, mata kirinya udah tercacah. Hancur.

Di teras rumah sakit, bulan menggantung lesu dibalik awan gelap, bergulung-gulung, tengah berarak buru-buru meskipun tidak terang maksud akhir perhentian awan-awan suram itu. Angin malam berembus cepat, mengetok pintu-pintu rumah sakit. Dedaunan pokok-pokokan di seputar halaman rumah sakit berdesir-desir, melemparkan beberapa suara menakutkan, bagai suara ajal yang mengambil langkah lamban, namun nyata. Sejumlah bunga, dari sana, seperti mawar, melati, anggrek, dan bugenvil tidak terpelihara, teduh tidak keruan, nampak kusam. Kelopak-kelopaknya, kendati lumayan temaram, tampak layu, menunduk seolah-olah tengah mengazab bumi secara sembunyi-sembunyi. Tidak ada suara jangkrik berderik-derik. Tidak ada suara kodok buduk berkruk-kruk. Walau demikian, dari kejauhan, kemungkinan di seberang sungai jorok yang airnya seperti oli hitam itu, satu ekor tekukur punya seseorang masyarakat berdendang di sangkarnya, mirip nyanyian parau. Terpatah-patah.

Untuk sekedar menangkis perasaan sedih, Pak Sukiman berdiri; istri ke-2 nya, Bu Tanty, masih duduk, sebaliknya repot mengirimi SMS pada rekan-rekan arisannya dengan telephone pegang mewahnya. Ke-2  bola matanya, kalau menjadi perhatian secara cermat, seakan-akan dicekam kemeranaan sejati.

Pak Sukiman masukkan ke-2  iris lengannya yang bercincin batu cokelat tua, di jemari manis kanannya, ke kantong jaket abu-abu kulitnya. Jaket kulit itu miliki lipatan garis jahitan sangat besar secara horizontal sampai tutupi ke-2  kantongnya. Dibalik pintu, masih kedengar suara derap cara sepatu yang makin menurun.

Pak Sukiman berbadan tambun, tidak terlalu tinggi, kepala sisi tengah lumayan botak, berkumis hitam tebal, dan berkulit pucat. Bila dia berkedip-kedip, interval waktunya lumayan lama saat sebelum dikedipkan kembali. Kulit pipinya lumayan turun ke bawah, membengkak di seputar mulutnya yang tertutup kumis tebal bibir atasnya. Gurat-gurat bibirnya lumayan keunguan. Saat jalan, kakinya dikendurkan ke samping. Ke-2  matanya seperti digelayuti beban rasa mengantuk berat, baik di saat siang ataupun di waktu malam. Dari air parasnya, dia nampak ringan tergoda wanita. Dia jalan mengarah pintu. Di dekat pintu itu, dia menarik kerah jaketnya ke atas, tutupi seluruhnya sisi lehernya seperti akan menyingkirkan dingin malam. Walaupun sebenarnya, dia tengah ada dalam kamar rumah sakit. pintunya juga tertutup rapat. Dia menarik korden pintu itu dengan tangan kanannya, dan menyibakkannya sedikit, sekitaran tiga puluh cm. akhir-akhir korden itu membuat bayang-bayang bias, berombak di atas lantai keramik putih. Saat sebelum melihat ke luar pintu, tatapannya terpasang pada kusen pintu yang cat biru mudanya mulai mengelupas. Dia terlintas di kulit paras Maya, anak gadis hanya satu yang saat ini terbujur kaku, tidak sadar diri. Dia memegang-megang papan pintu itu laksana menyeka-usap tembok hatinya yang mulai rapuh. Di luar, nampak suatu dahan pokok mangga golek berderak-derak, patah tertiup angin kuat. Hujan mulai turun, membasahi bumi. Demikian penglihatannya tertawan pada kawat-kawat perak hujan yang benderang diterpa cahaya lampu listrik dari pojok atap teras samping rumah sakit, daya ingatnya tersirap ke waktu 6 tahun lalu.

Published
Categorized as Sastra

Puisi Pendek

Pujian Bawang Merah

Dia tidak bersusah-hati

sesudah terpisah dari suatu

dekapan yang pernah dieratkan.

Sesudah prima jadi siung

sampai. Dia ikhlas berikan badannya

buat hancur ditumbuk, tipis diiris-iris

atau bersmaaan dengan kancing.

Untuknya. Tidak ada yang lebih kuat

merengkuh, selainnya takdir. Tidak ada

yang lebih prima mengucur

terkecuali yang pernah lahir.

Seperti itulah, seadanya

dia terima seluruhnya

seputih badannya

seteguh baunya.

Sesiung Bawang Putih

Sesiung bawang putih

mungkin sempat gundah

pada muka tanah. Tunggu

hujan tumpah dan peluh

jatoh dari jidat-jidat berkarat.

Sementara, di bibir sumur

mendadak saja basah

membasuhnya.

Dia emosi, kayaknya

selanjutnya mengangsu air matamu

menjadi pertanda bersedih atas separah

perpisahannya dengan setengah

kulit luarnya.

Di pundak dapur

pada matamu yang menangis

setelah itu. Dia lemparkan semua

kedukaan, waktu setajam pisau

mengiris tipis kulitnya

mengganggu berbau badannya.

Sambel Merah

Di atas cobek

sejumlah kemarahan cabe merah

rebah ditambah lagi doa selamat

dari tomat dan seasin pengalaman

dari taburan garam.

Dengan bayangan santap

dan setumpuk nasi hangat.

Menjadi kiat nikmat

anak batu menari

hingga sampai lumat semua sedap

dan jidat-jidat berkeringat.

DI DAPUR UMUM

Kami rebus 100 kemas

kisah lama, seribu haru

dan sejuta mata cidera.

Di atas daun pisang, setelah itu

jari-jari kami menari, rayakan

hari yang masih ada, sepeninggalan

cuaca yang hingga sampai mengambil alih rumah

dan didalamnya.

Published
Categorized as Sastra

Belajar Sajak Indonesia

Satu diantara rintangan paling besar yang hendak selalu ditemui seorang penyair yaitu bagaimana dia menulis pernyataan-pernyataan fresh dalam sajaknya serta pada waktu yang bertepatan sanggup meletakkan pernyataan-pernyataan fresh yang dijumpainya itu dalam frame nalar serta kondisi sajak yang ditulisnya.

Contoh sajak yang diartikan dalam paragraf pertama nota ini, yang bisa diketemukan dalam etika kanonik kesusastraan Indonesia, umpamanya suatu sajak legendaris yang dicatat Chairil Anwar, “Derai-derai Cemara”.

cemara menderai hingga sampai jauh

berasa hari tercipta dapat malam

ada banyak dahan ditingkap merapuh

dipukul angin yang tersembunyi

saya saat ini orangnya dapat tahan

udah lama bukan kanak kembali

namun dahulu betul-betul ada satu bahan

yang bukan dasar penghitungan saat ini

hidup cuma menangguhkan kekalahan

makin jauh dari cinta sekolah rendah

serta tahu, ada yang tidak disampaikan

saat sebelum pada akhirannya kita berserah

pernyataan-pernyataan fresh di empat baris pertama sajak “Derai-derai Cemara” udah jadi langgeng lantaran diletakkan dalam nalar serta kondisi sajak itu. pernyataan-pernyataan fresh di empat baris pertama sekaligus juga jadi pengantar keempat baris ke-2 serta baris ke-10 serta kesebelas sebagai objek penting sajak itu. pernyataan-pernyataan fresh baris ke 9 (hidup cuma menangguhkan kekalahan) serta baris ke-2 belas (saat sebelum pada akhirannya kita berserah) yaitu pokok sekalian ikhtisar sajak itu.

Menulis sajak tidaklah hanya masalah mendapatkan pernyataan-pernyataan fresh yang sebisa-bisanya orisinil serta keluar klise namun pun masalah meletakkan pernyataan-pernyataan fresh yang diketemukan itu dalam frame nalar serta kondisi sajak tersebut.

Kerap kita mendapatkan pernyataan-pernyataan fresh dalam sebuah sajak cuma stop menjadi pernyataan-pernyataan fresh semata-mata serta tak memperkokoh sajak itu keseluruhannya. Ini berlangsung karena pernyataan-pernyataan fresh itu tak diletakkan dengan cara tepat oleh penyairnya dalam frame nalar serta kondisi sajak tersebut. Di kejadian sama dengan itu, sangatlah disayang, pernyataan-pernyataan fresh itu lantas teperdaya di anakronisme.

Published
Categorized as Sastra